PROGRAM INOVASI DESA KABUPATEN MAGELANG

Peningkatan Pembelajaran dan Pelatihan Teknologi Pertanian

dengan Memanfaatkan POSLUHDES

P e m e r i n t a h D e s a To n o b o y o , K e c a m a t a n Bandongan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, berinisiatif untuk mengembangkan teknologi pertanian organik dengan jalan pembelajaran dan pelatihan serta diskusi yang dilaksanakan dari, oleh dan untuk masyarakat petani dan orang-orang yang care dengan nasib para petani. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kapasitas dan pengetahuan para petani agar dapat kembali pada sistem pengelolaan pertanian secara Organik.

Diantara produk pertanian yang direncanakan diantaranya adalah padi organik dan hortikultura. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan bagi masyarakat desa dan pemenuhan kebutuhan warga serta pasar pangan organik.

LATAR BELAKANG

  1. Desa Tonoboyo dengan penduduk lebih dari 3.200 memiliki beberapa potensi yang dapat menunjang kegiatan pertanian, diantaranya beras, khususnya beras organik. Ditunjang dengan adanya sistem pengairan yang memadai sehingga dalam musim kemarau sekalipun masih dapat mengerjakan lahan tanpa terkendala air.
  2. Pemerintah Desa memiliki rencana mengembangkan potensi dengan memberikan peningkatan pengetahuan dan pemahaman pengelolaan pertanian secara organik dan tidak hanya dilaksanakan oleh satu kelompok tani, namun semua kelompok tani di Desa Tonoboyo secara umum.
  3. Karena pola pertanian di masyarakat saat ini, lebih dimudahkan dengan adanya pupuk kimia yang harganya murah dan dapat diperoleh secara mudah, padahal penggunaan pupuk kimia dalam jangka waktu panjang akan merusak tanah. Baik secara kontur maupun kesuburan.
  4. Karena adanya inisiasi dari BPPK Kecamatan Bandongan merujuk Surat Edaran yang dikeluarkan melalu BP2KP diharapkan desa membentuk POSLUHDES. Sebagai kepanjangan tangan BPPK Kecamatan Bandongan. Sehingga semua ilmu dan pengetahuan tentang pengelolaan pertanian dapat ditransformasi secara cepat, efektif dan efisien dalam wadah POSLUHDES.

SOLUSI

Pemerintah Desa membuat POSLUHDES sebagai wahana dan sarana bagi para petani untuk meningkatkan kapasitas pemahaman dan keilmuan tentang pertanian khususnya perngelolaan pertanian organik.

MANFAAT

  1. Petani dapat meningkatkan kapasitas dengan pelatihan, diskusi, penyuluhan dan segala macam tranfer ilmu dalam rangka peningkatan pengetahuan tentang pengelolaan pertanian organik.
  2. POKTAN/GAPOKTAN memiliki produk unggulan dan memperoleh penghasilan.
  3. Dalam jangka panjang para petani akan beralih pada pengelolaan pertanian organik, diantaranya penggunaan pupuk organik yang ramah lingkungan dan bahan-bahannya pun mudah dan bisa didapatkan di sekitar kita, sehingga tidak merusak tanah.
  4. Selain padi organik, dapat juga dikembangkan pada produk hortikultura diantaranya cabai, terong dan okra 

PROSES PENYELESAIAN MASALAH

  1. Pemerintah Desa diinisiasi oleh BPPK merujuh Surat Edaran melalui BP2KP agar membuat POSLUHDES.
  2. Pemerintah Desa mengadakan musyawarah dengan BPD, Pengurus GAPOKTAN dan para petani dengan menerima beberapa masuka u n t u k m e m b a n g u n s a r a n a p e n u n j a n g diantaranya Bangunan POSLUHDES .
  3. D a l a m M u s y a w a r a h P e r e n c a n a a n Pembangunan Desa (Musrenbangdes) P e m b a n g u n a n G e d u n g P O S L U H D E S dituangkan dalam RPJMDes dan dianggrakan melalui APBDes.
  4. Pada tahun 2014 mulai dicanagkan dengan membentuk kader yang akan melaksanakan dan mengelola dengan membentuk pengurus yang kemudian dibuatkan SK Kepala Desa tentang Pengurus POSLUHDES.
  5. Tahun 2015 dibangun Gedung POSLUHDES menggunakan Dana Desa meski masih dalam taraf pembangunan yang sudah dapat dimanfaatkan namun belum difinishing.
  6. Dari tahun ke tahun dianggrakan untuk p e n i n g k a t a n d a n p e n y e m p u r n a a n POSLUHDES, diantaranya finishing bangunan, pemasangan listrik, pembuatan ruang sekretariat, Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengurus, Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petani dan pembuatan Kamar mandi serta toilet.
  7. M a n a j e m e n p e n g a t u r a n p e n g e l o l a POSLUHDES diantaranya kegiatan harian (piket) 3 orang setiap hari dalam rangka perawatan tanaman.
  8. Manajeman pengelolaan didasarkan sesuai kapasitas masing-masing pengurus berdasarkan jabatannya.
  9. Setiap 35 hari (selapan) sekali melakukan pertemuan rutin dalam rangka diskusi dalam rangka proses pembelajaran dan pengajaran pengelolaan pertanian.

PENDANAAN

  1. Dana Desa
  2. Kompensasi uang pembinaan dari provinsi
  3. Swadaya para petani

PELAKU

  1. Pemerintah Desa
  2. BPD
  3. Kelompok Tani/GAPOKTAN
  4. Para Petani
  5. PPL Kecamatan
  6. Penyuluh Pertanian Mandiri

HASIL/CAPAIAN

  1. Juara 1 tingkat Kabupaten Magelang
  2. Juara Harapan II tingkat Provinsi Jawa Tengah
  3. Peningkatan kapasitas pengetahuan para petani dalam pengelolaan pertanian organik
  4. Petani diberikan pembekalan dan pembelajaran tentang pertanian organik, diantaranya :

                 - Beras Organik (sudah memiliki Serti?kat SNI) jenis mentik wangi.

                 - Hortikultura (Cabai, Tomat, Terong dan Okra); pengelolaan okra telah bekerja sama dengan JTM (Joglo Tani Makmur).

                 - Pembuatan pupuk cair organik (kombinasi pupuk kandang, jerami, debog pisang, bonggol pisang, daun marenggo, serabut kelapa

                   dan masih banyak bahan alami lainnya).

                 - Pembutan pupuk padat organik.

                 - Pembuatan jamu (untuk manusia, hewan dan tanaman)

PEMBELAJARAN

  1. Adanya sarana dan wahana bagi para petani untuk menlakukan diskusi, pembelajaran pengelolaan pertanian, sehingga para petani dapat terorganisir dan dapat lebih cepat memperoleh informasi tentang pengetahuan pertanian baik dari sesama petani, penyuluh lapangan maupun penyuluh mandiri.
  2. Peningkatan Kapasitas pelaku kegiatan pertanian berkesinambungan sehingga dapat mengembangkan kegiatan lainnya diantaranya penanaman sayuran dengan sistem Hidroponik.
  3. Memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa menekuni usaha pertanian juga dapat memberikan hasil yang baik bagi masyarakat, yang pada saaat ini usaha pertanian mulai ditinggalkan oleh masyarakat, khususnya petani padi.
  4. Melibatkan lebih banyak petani sehingga pemenuhan kebutuhan produk pangan organik di pasar akan lebih mudah.

REKOMENDASI

  1. Perlu adanya keberpihakan pemangku kepentingan terhadap kebijakan-kebijakan pro petani sehingga pekerjaan petani tidak dipandang sebelah mata lagi.
  2. Sehingga dapat menumbuhkan petani-petani baru yang inovatif, kreatif dan memiliki kapasitas dalam pengetahuan pengelolaan pertanian organik.
  3. Lebih sering melakukan pertemuan dan pembelajaran di ruang lingkup kelompok tani karena membangun kebersaman sangat sulit dilakukan.